Buat sebagian orang, mungkin satu kantor dengan suami tercinta adalah sebuah keanehan. Apalagi di Indonesia banyak perusahaan yang memilki peraturan tidak diperkenankan suami istri dalam satu perusahaan. Jika ada karyawan satu kantor yang kemudian menikah, maka salah satunya diperkenankan untuk pindah ke perusahaan lain. Tentu dengan kompensasi tertentu.
Tapi buat kami, hal tersebut tidak berlaku. Sejak berkomitmen untuk menikah, kami sudah menyampaikan rencana pernikahan kami ke HRD dan Direktur kami.
Dan ternyata menurut beliau, di perusahaan ini belum ada peraturan mengenai larangan suami istri satu perusahaan.
Atasan kami hanya berkata : “Yang dilarang di perusahaan ini adalah menikah dengan cewek satu kantor”
“Maksud Bapak?”
“Maksudnya, pacar kamu itu gak boleh kawin ama kamu, Bu Desi, Bu Irma, Dela, Indah, dan cewek-cewek lain di kantor ini SEKALIGUS. Kalau ama kamu seorang siy boleh aja…..”
“Ya iyalah……………”
Dan akhirnya kami pun menikah. 1 September 2007.
Setelah cuti dan honeymoon selama hampir 2 minggu, akhirnya kami dengan berat hati harus sudah masuk kerja kembali.
“Ugh……aku masih pengen bulan madu lagi niy, Bebe…… Bila perlu seratus tahun lagi…..”
Minggu pertama masuk kerja, sudah begitu banyak hal-hal menggelikan yang kadang membuat aku merasa malu juga.
“Gimana rasanya kawin? Pasti nyesel dong? Nyesel gak dari dulu!”
“Eh, udah “isi” belum?”
“Pake test pack ini deh…kali aja loe udah hamil”
Uff…! Baru juga married 2 minggu…udah ditanyain hamil atau belum….
Capek deh…..
Dan sampai sekarang, setelah menjalani lebih dari satu tahun sejak kami menikah, begitu banyak komentar, kejadian, atau moment yang membuat aku berpikir “alangkah beruntungnya kami”.
Satu kantor dengan suami membuat kami bisa :
- Hemat biaya transportasi, tidak perlu antar atau jemput ke lokasi yang berbeda.
- Kalau kangen, lebih cepat terobati, tinggal turun deh ke lantai 2……
- Makan siang bareng tiap hari……
- Kalau ada masalah ama temen kantor yang lain, bisa ngadu….
(Pernah gara-gara “payroll trouble maker” berulah, aku diomelin ama atasan aku, hu…hu…langsung deh aku cari “A Shoulder to Cry On”…)
- Saling jaga (saling mengawasi ya?…….)
- Lebih punya banyak waktu bersama, efektif full 24 jam.
Jadi menurut aku, pokoke enak deh satu kantor ama suami tercinta.
Bagaimana menurut kamu?
Minggu, 08 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar