Weekend ini bencana besar buatku. Suami tercinta sakit. Meski cuma flu ringan, tapi efeknya luar biasa.
Gadis kecilku, Thata, jadi ketularan, ikut-ikutan pilek. Duh, jadi kasian deh. Apalagi seumuran dia, 8 bulan, masih belum bisa buang ingus sendiri.
Thata jadi rewel, tidur gak nyenyak, pengennya dipeluk terus.
Yang lebih mengkhawatirkan, dia maunya digendong Ayahnya terus. Padahal “penyebar virus flu” adalah Ayahnya.
Wah, gawat niy, pikirku. Akhirnya dengan terpaksa, aku usir suamiku untuk sebisa mungkin jauh dari Thata. Dan malam ini, dia harus tidur diluar kamar. Ya, kami yang setiap malam tidur bertiga, harus rela tidur terpisah sementara. Sampai keduanya sembuh.
Jadi kalau boleh memilih, pilih mana ya : anak yang sakit atau suami yang sakit?
Duhh…..cepet pada sembuh dong…… :(
Sabtu, 14 Februari 2009
Minggu, 08 Februari 2009
Untung rugi satu kantor dengan suami…..??
Buat sebagian orang, mungkin satu kantor dengan suami tercinta adalah sebuah keanehan. Apalagi di Indonesia banyak perusahaan yang memilki peraturan tidak diperkenankan suami istri dalam satu perusahaan. Jika ada karyawan satu kantor yang kemudian menikah, maka salah satunya diperkenankan untuk pindah ke perusahaan lain. Tentu dengan kompensasi tertentu.
Tapi buat kami, hal tersebut tidak berlaku. Sejak berkomitmen untuk menikah, kami sudah menyampaikan rencana pernikahan kami ke HRD dan Direktur kami.
Dan ternyata menurut beliau, di perusahaan ini belum ada peraturan mengenai larangan suami istri satu perusahaan.
Atasan kami hanya berkata : “Yang dilarang di perusahaan ini adalah menikah dengan cewek satu kantor”
“Maksud Bapak?”
“Maksudnya, pacar kamu itu gak boleh kawin ama kamu, Bu Desi, Bu Irma, Dela, Indah, dan cewek-cewek lain di kantor ini SEKALIGUS. Kalau ama kamu seorang siy boleh aja…..”
“Ya iyalah……………”
Dan akhirnya kami pun menikah. 1 September 2007.
Setelah cuti dan honeymoon selama hampir 2 minggu, akhirnya kami dengan berat hati harus sudah masuk kerja kembali.
“Ugh……aku masih pengen bulan madu lagi niy, Bebe…… Bila perlu seratus tahun lagi…..”
Minggu pertama masuk kerja, sudah begitu banyak hal-hal menggelikan yang kadang membuat aku merasa malu juga.
“Gimana rasanya kawin? Pasti nyesel dong? Nyesel gak dari dulu!”
“Eh, udah “isi” belum?”
“Pake test pack ini deh…kali aja loe udah hamil”
Uff…! Baru juga married 2 minggu…udah ditanyain hamil atau belum….
Capek deh…..
Dan sampai sekarang, setelah menjalani lebih dari satu tahun sejak kami menikah, begitu banyak komentar, kejadian, atau moment yang membuat aku berpikir “alangkah beruntungnya kami”.
Satu kantor dengan suami membuat kami bisa :
- Hemat biaya transportasi, tidak perlu antar atau jemput ke lokasi yang berbeda.
- Kalau kangen, lebih cepat terobati, tinggal turun deh ke lantai 2……
- Makan siang bareng tiap hari……
- Kalau ada masalah ama temen kantor yang lain, bisa ngadu….
(Pernah gara-gara “payroll trouble maker” berulah, aku diomelin ama atasan aku, hu…hu…langsung deh aku cari “A Shoulder to Cry On”…)
- Saling jaga (saling mengawasi ya?…….)
- Lebih punya banyak waktu bersama, efektif full 24 jam.
Jadi menurut aku, pokoke enak deh satu kantor ama suami tercinta.
Bagaimana menurut kamu?
Tapi buat kami, hal tersebut tidak berlaku. Sejak berkomitmen untuk menikah, kami sudah menyampaikan rencana pernikahan kami ke HRD dan Direktur kami.
Dan ternyata menurut beliau, di perusahaan ini belum ada peraturan mengenai larangan suami istri satu perusahaan.
Atasan kami hanya berkata : “Yang dilarang di perusahaan ini adalah menikah dengan cewek satu kantor”
“Maksud Bapak?”
“Maksudnya, pacar kamu itu gak boleh kawin ama kamu, Bu Desi, Bu Irma, Dela, Indah, dan cewek-cewek lain di kantor ini SEKALIGUS. Kalau ama kamu seorang siy boleh aja…..”
“Ya iyalah……………”
Dan akhirnya kami pun menikah. 1 September 2007.
Setelah cuti dan honeymoon selama hampir 2 minggu, akhirnya kami dengan berat hati harus sudah masuk kerja kembali.
“Ugh……aku masih pengen bulan madu lagi niy, Bebe…… Bila perlu seratus tahun lagi…..”
Minggu pertama masuk kerja, sudah begitu banyak hal-hal menggelikan yang kadang membuat aku merasa malu juga.
“Gimana rasanya kawin? Pasti nyesel dong? Nyesel gak dari dulu!”
“Eh, udah “isi” belum?”
“Pake test pack ini deh…kali aja loe udah hamil”
Uff…! Baru juga married 2 minggu…udah ditanyain hamil atau belum….
Capek deh…..
Dan sampai sekarang, setelah menjalani lebih dari satu tahun sejak kami menikah, begitu banyak komentar, kejadian, atau moment yang membuat aku berpikir “alangkah beruntungnya kami”.
Satu kantor dengan suami membuat kami bisa :
- Hemat biaya transportasi, tidak perlu antar atau jemput ke lokasi yang berbeda.
- Kalau kangen, lebih cepat terobati, tinggal turun deh ke lantai 2……
- Makan siang bareng tiap hari……
- Kalau ada masalah ama temen kantor yang lain, bisa ngadu….
(Pernah gara-gara “payroll trouble maker” berulah, aku diomelin ama atasan aku, hu…hu…langsung deh aku cari “A Shoulder to Cry On”…)
- Saling jaga (saling mengawasi ya?…….)
- Lebih punya banyak waktu bersama, efektif full 24 jam.
Jadi menurut aku, pokoke enak deh satu kantor ama suami tercinta.
Bagaimana menurut kamu?
Minggu, 01 Februari 2009
Mengapa kaum wanita kelihatannya begitu sengsara…..??
Sejak diberi anugerah seorang gadis kecil yang cantik, My Lovely Thata, setiap malam aku selalu terbangun untuk memberikan ASI, hal terbaik yang bisa aku berikan. Kadang sering merasa sebel, kesal, capek, jenuh, harus 2 kali bahkan lebih, terbangun hanya agar gadis kecilku tidak kehausan.
Sering jika merasa sudah begitu BT, aku “berantem” ama suami tercinta.
“Ayah enak banget siy, gak perlu bangun malem untuk kasih susu buat Thata.
Masa’ Bunda terus yang bangun…..”
“Udah 9 bulan, Bunda bawa Thata kemana-mana, kuliah, kerja. Terus, pas melahirkan, cuma Bunda yang merasa sakit…..eh, sekarang udah diluar masih aja Bunda yang harus bangun malem buat kasih Thata ASI…….”
“Ugh, sebelll…..!”
Tapi, suamiku cuma tertawa….. dan sambil meledekku, dia berkata :
“Itulah enaknya laki-laki…..”
Karena kesal mendengar ledekan suami, akhirnya aku coba pikirkan lagi kenapa siy kaum wanita kelihatannya sengsara banget. Dan setelah aku hitung-hitung ternyata ada banyak “perbedaan” wanita & pria, diantaranya :
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding pria.
2. Wanita wajib meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah, tetapi suami boleh semaunya. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tidak perlu taat pada isterinya.
3. Wanita menerima warisan lebih sedikit (hanya setengah) jumlahnya daripada pria.
4. Wanita harus hamil dan melahirkan anak. Pria mau enaknya saja….. :(
5. Talak/keputusan cerai terletak di tangan suami dan bukan isteri. Padahal banyak kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan para suami. Jadi kalau ada seorang istri yang sudah gak betah dengan perkawinannya, tetap harus menunggu persetujuan suami.....
6. Wanita dibatasi amal ibadahnya, karena harus haid/menstruasi dan nifas.
Ugh, jadi makin sebel kalau ingat ledekan suami :
“Itulah enaknya laki-laki…..” :(
Ketika hal tersebut aku bicarakan dengan suami, (gak tahan sakit hati sendiri) , akhirnya kami coba diskusikan dan cari beberapa artikel sebagai informasi.
Dan ternyata………….
Pemikiran aku kemarin tentang “perbedaan” wanita & pria tersebut : SALAH.
Setelah kami pelajari maka alasan sebenarnya tentang “perbedaan” wanita & pria tersebut :
1. Wanita adalah perhiasan termahal yang harganya tiada tara. Sehingga wajib dijaga dan diperlakukan dengan baik dan lembut. Wanita seumpama intan permata.
2. Wanita harus taat kepada suami, tetapi pria wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada ayahnya. Di akhirat kelak, seorang pria akan mempertanggungjawabkan 4 wanita, yaitu : isteri, ibu, anak perempuan, dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita, tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang pria,yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara laki-lakinya.
He…..he……berarti kalau aku berbuat salah, yang salah suami aku… :D
3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada pria, tetapi harta itu menjadi milik dia sendiri dan tidak wajib diserahkan kepada suaminya, sementara apabila pria menerima warisan, ia wajib menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.
Uang istri adalah uang istri, uang suami adalah uang istri…..
4. Wanita tidak wajib bekerja, tapi kaum pria lah yang harus mencari nafkah, dan memastikan kebutuhan anak dan istrinya terpenuhi…
Ayo Ayah……kerja yang rajin ya cinta….!
5. Wanita harus bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi pada saat hamil, setiap saat dia didoakan oleh malaikat dan seluruh makhluk di muka bumi ini, dan jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
Dan banyak lagi keistimewaan seorang wanita……….
Hmmm…..jadi gak sebel lagi deh….kalau harus bangun untuk gadis kecilku.
“Luv You, Nak!”
Sering jika merasa sudah begitu BT, aku “berantem” ama suami tercinta.
“Ayah enak banget siy, gak perlu bangun malem untuk kasih susu buat Thata.
Masa’ Bunda terus yang bangun…..”
“Udah 9 bulan, Bunda bawa Thata kemana-mana, kuliah, kerja. Terus, pas melahirkan, cuma Bunda yang merasa sakit…..eh, sekarang udah diluar masih aja Bunda yang harus bangun malem buat kasih Thata ASI…….”
“Ugh, sebelll…..!”
Tapi, suamiku cuma tertawa….. dan sambil meledekku, dia berkata :
“Itulah enaknya laki-laki…..”
Karena kesal mendengar ledekan suami, akhirnya aku coba pikirkan lagi kenapa siy kaum wanita kelihatannya sengsara banget. Dan setelah aku hitung-hitung ternyata ada banyak “perbedaan” wanita & pria, diantaranya :
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding pria.
2. Wanita wajib meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah, tetapi suami boleh semaunya. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tidak perlu taat pada isterinya.
3. Wanita menerima warisan lebih sedikit (hanya setengah) jumlahnya daripada pria.
4. Wanita harus hamil dan melahirkan anak. Pria mau enaknya saja….. :(
5. Talak/keputusan cerai terletak di tangan suami dan bukan isteri. Padahal banyak kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan para suami. Jadi kalau ada seorang istri yang sudah gak betah dengan perkawinannya, tetap harus menunggu persetujuan suami.....
6. Wanita dibatasi amal ibadahnya, karena harus haid/menstruasi dan nifas.
Ugh, jadi makin sebel kalau ingat ledekan suami :
“Itulah enaknya laki-laki…..” :(
Ketika hal tersebut aku bicarakan dengan suami, (gak tahan sakit hati sendiri) , akhirnya kami coba diskusikan dan cari beberapa artikel sebagai informasi.
Dan ternyata………….
Pemikiran aku kemarin tentang “perbedaan” wanita & pria tersebut : SALAH.
Setelah kami pelajari maka alasan sebenarnya tentang “perbedaan” wanita & pria tersebut :
1. Wanita adalah perhiasan termahal yang harganya tiada tara. Sehingga wajib dijaga dan diperlakukan dengan baik dan lembut. Wanita seumpama intan permata.
2. Wanita harus taat kepada suami, tetapi pria wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada ayahnya. Di akhirat kelak, seorang pria akan mempertanggungjawabkan 4 wanita, yaitu : isteri, ibu, anak perempuan, dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita, tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang pria,yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara laki-lakinya.
He…..he……berarti kalau aku berbuat salah, yang salah suami aku… :D
3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada pria, tetapi harta itu menjadi milik dia sendiri dan tidak wajib diserahkan kepada suaminya, sementara apabila pria menerima warisan, ia wajib menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.
Uang istri adalah uang istri, uang suami adalah uang istri…..
4. Wanita tidak wajib bekerja, tapi kaum pria lah yang harus mencari nafkah, dan memastikan kebutuhan anak dan istrinya terpenuhi…
Ayo Ayah……kerja yang rajin ya cinta….!
5. Wanita harus bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi pada saat hamil, setiap saat dia didoakan oleh malaikat dan seluruh makhluk di muka bumi ini, dan jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
Dan banyak lagi keistimewaan seorang wanita……….
Hmmm…..jadi gak sebel lagi deh….kalau harus bangun untuk gadis kecilku.
“Luv You, Nak!”
Langganan:
Postingan (Atom)
